https://prezi.com/sivb77tjtabm/hubungan-kurangnya-pengetahuan-alat-pelindung-diri-pekerja-tambang-dengan-penyakit-ispa/#
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pekerja tambang biasanya tidak
memperhatikan Keselamatan Kerja karna kemauan dan kesadaran mereka kurang. Di
era globalisasi ini keselamatan kerja berlaku karna menjadi salah satu syarat
yang ditetapkan dalam suatu perusahaan untuk keselamatan pekerja. Seharusnya
pada era kemajuan ini keselamatan kerja harusnya berkurang tapi karna masih
banyaknya yang menyepelekan sehingga kesehtan keselamatan kerja di Indonesia
sangat rendah disbanding Negara lainnya. Banyak pekerja yang menyepelekan
resiko sehingga tidak menggunakan alat pelindung diri dan juga kurang
pengetahuan kesehatan dan keselamatan kerja itu sendiri.
Kesehatan menurut WHO adalah keadaan sejahtera
dari jasmani, mental, keejahteraansosial dan spiritual yang memungkinkan setiap
orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Kesehatan Indonesia dimata
dunia saat ini, kurang baik karena terkadang masyarakat mengalami beberapa
masalah tentang penyakit, seperti: gizi makanan, kesehatan lingkungan, mental
dll, sehingga dapat mengganggu kesehatan anggota tubuh lain dan aktivitas
sehari-hari.
Kalimantan Timur (kaltim)
adalah provinsi Indonesia di pulau Kalimantan bagian ujung timur yang
berbatasan dengan Malaysia, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan
Selatan dan Sulawesi. Ibu kota Kalimantan Timur adalah samarinda. Luas total
kaltim adalah 129.066,64 km² dan populasi sebesar 3,6 juta. Kaltim merupakan
wilayah dengan kepadatan penduduk terendah keempat di Nusantara.
Tidak adanya dukungan dan peraturan
dari Gubernur Kalimantan Timur tentang adanya penggunaan alat pelindung diri
khususnya masker. Tidak adanya penyuluhan atau sosialisasi tentang baik dan
buruknya lingkuhan kerja tambang. Kurangnya peran tenaga kesehatan tentang
penanganan gejala ISPA bahkan tidak adanya sosialisasi tentang gejala ISPA dan
faktor yangmengakibatkan ISPA sehingga mengakibatkan kurangnya pengetahuan
pekerja.
ISPA adalah kepanjangan dari Infeksi
Saluran Pernafasan Akut yang berarti terjadinya infeksi yang parah pada bagian
sinus, tenggorokan, saluran udara, atau paru-paru. ISPA seringkali disebabkan
oleh virus maupun bakteri. Seseorang yang terkena ISPA maka fungsi pernapasan
menjadi terganggu. Jika tidak segera ditangani, ISPA dapat menyebar ke seluruh
sistem pernapasan tubuh. Tubuh tidak bisa mendapatkan cukup oksigen karena
infeksi yang terjadi dan kondisi ini bisa berakibat fatal, bahkan mungkin bisa
berujung pada kematian.
ISPA harus dianggap sebagai
kondisi darurat, jika mencurigai terjadinya serangan ISPA, segera cari bantuan
medis. Kondisi ini berpotensi menyebar dari orang ke orang. Bagi yang mengalami
kelainan sistem kekebalan tubuh dan juga orang yang lanjut usia akan lebih mudah
terserang penyakit ini. Terlebih lagi pada anak-anak, di mana sistem kekebalan
tubuh mereka belum terbentuk sepenuhnya.
Penderita Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Timur pada periode Januari hingga Agustus
2015 mencapai 101.280 orang. Data tersebut bersifat akumulatif yakni kasus yang
terjadi pada periode Januari hingga Agustus 2015. Jadi, jumlah penderita ISPA
di Kaltim yang mencapai 101.280 orang tersebut, bukan semua akibat terdampak
kabut asap.
Penderita ISPA terbanyak
kata Rini Retno selaku Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur,
terdata di Kota Samarinda yakni mencapai 42. 887 penderita, disusul Kabupaten
Paser 11.608 penderita dan di Kabupaten Kutai Timur terdapat 11.579 penderita.
Sebanyak 10. 621 penderita ISPA juga lanjut Rini Retrno terdata di Kabupaten
Kutai Kartanegara, 7.757 orang di Kabupaten Berau, sebanyak 6.976 penderita di
Kabupaten Penajam Paser Utara serta 2.095 orang menderita ISPA di Kabupaten
Mahakam Ulu.
Dari studi yang saya
lakukan pada lokasi tambang di Sanga-sanga didapatkan bahwa tidak sedikit
pekerja yang tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) khususnya masker.
Sehingga tidak sedikit pula pekerja mengalami gejala ISPA. Bahkan telang
menderita ISPA dikarenakan kurang adanya pengetahuan bahaya kabut atau kondisi
tempat kerja. Serta kurangnya pengetahuan tentang apa itu pentingnya Alat
Pelindung Diri. Oleh karna itu adanya studi tentang “Hubungan Kurangnya
Pengetahuan Tentang Alat Pelindung Diri Pekerja Tambang Dengan Penyakit ISPA.”
B.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang
yant telah diuraikan di atas maka rumusan masalah yang diangkat-diambil
peneliti adalah “hubungan kurangnya pengetahuan tentang alat pelindung diri
pekerja tambang dengan penyakit ISPA”?
C.
TUJUAN MASALAH
Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui hubungan kurangnya pengetahuan tentang alat pelindung
diri pekerja tambang dengan penyakit ISPA.
D. MANFAAT PENELITIAN
1.
Bagi Responden
Dapat menambah serta meningkatkan pengetahuan tentang hubungan
kurangnya pengetahuan tentang alat pelindung diri pekerja tambang dengan
penyakit ISPA.
2.
Bagi Ilmu dan Profesi Kesehatan
Dapat memberikan masukan informasi yang berharga bagi profesi
tenaga kesehatan dalam menyusun program pemberian pendidikan kesehatan serta
pengetahuan tentang alat pelindung diri dengan panyakit ISPA.
3.
Bagi Lingkungan Kerja Tambang
Dapat digunakan sebagai penilaian dan pemikiran terhadap
pelayanan yang telah diberikan terutama dalam meningkatkan pengetahuan tentang
hubungan kurangnya pengetahuan tentang alat pelindung diri pekerja tambang
dengan penyakit ISPA.
4.
Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan pertimbangan, sumber bacaan, bahan pengajaran di
perkuliahan serta dapat dijadikan refrensi bagi mahasiswa lain yang ingin melakukan
penelitian lanjutan.
5.
Bagi Penulis
Penelitian ini sebagai sarana dalam mengembangkan dan
mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang di dapat selama pendidikan dengan
kenyataan yang ada dilapangan dan pengalamn yang sangat berguna dalam memberikan
pembuatan skripsi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Alat Pelindung Diri
(APD)
a. Pengertian Alat Pelindung
Diri (APD)
Perlindungan keselamatan pekerja
melalui upaya teknis pengamanan
tempat, mesin, peralatan dan lingkungan kerja
wajib diutamakan. Namun, kadang- kadang
risiko terjadinya kecelakaan masih belum sepenuhnya dapat dikendalikan, sehingga digunakan alat pelindung
diri (personal protective equipment). Jadi penggunaan APD adalah alternatif terakhir yaitu kelengkapan dari segenap upaya
teknis pencegahan
kecelakaan.
Alat Pelindung
Diri (APD) adalah peralatan keselamatan yang
harus digunakan oleh personil
apabila berada pada suatu tempat kerja yang berbahaya.
Menurut Suma’mur (2009) alat pelindung diri adalah suatu
alat yang dipakai untuk
melindungi diri atau tubuh terhadap bahaya-bahaya kecelakaan kerja.
Jadi
alat pelindung diri adalah merupakan salah satu cara untuk mencegah kecelakaan dan secara teknis APD tidaklah sempurna
dapat melindungi tubuh akan tetapi dapat mengurangi
tingkat keparahan
kecelakaan
kerja yang terjadi.
b.
Syarat
- Syarat Alat Pelindung
Diri (APD)
Menurut Siswanto (1993), ketentuan yang harus dipenuhi dalam pemilihan APD adalah :
1.
Dapat memberikan perlindungan yang adekuat terhadap bahaya yang spesifik
atau bahaya-bahaya yang dihadapi
oleh
tenaga kerja
2.
Berat alat hendaknya seringan mungkin dan alat
tersebut tidak menyebabkan rasa ketidaknyamanan yang berlebihan.
3. Harus dapat
dipakai secara fleksibel.
4. Bentuknya harus cukup menarik.
5. Tahan
untuk pemakaian yang lama.
6. Tidak menimbulkan bahaya-bahaya tambahan bagi pemakainya yang dikarenakan bentuk dan bahayanya yang
tidak tepat atau karena salah dalam penggunaannya.
7. Alat pelindung diri harus memenuhi standard yang telah ada.
8. Alat tersebut
tidak membatasi gerakan dan
persepsi sensoris pemakainya.
9. Suku cadangnya harus mudah didapat guna mempermudah
pemeliharaannya.
Menurut Suma’mur (1996), alat pelindung diri
harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut
:
· Enak dipakai
· Tidak mengganggu
kerja
· Memberikan
perlindungan efektif
terhadap jenis
bahaya.
c.
Kesehatan
dan Keselamatan Kerja Karyawan Pekerja Tambang
Alat pelindung diri adalah seperangkat alat yang digunakan
oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh/sebagian tubuhnya terhadap
kemungkinan adanya potensi bahaya/kecelakaan kerja. Alat pelindung diri dipakai
sebagai upaya terakhir dalam usaha melindungi tenaga kerja apabila usaha
rekayasa (engineering) dan administratif tidak dapat dilakukan dengan baik.
Namun pemakaian alat pelindung diri bukanlah pengganti dari kedua usaha
tersebut, namun sebagai usaha akhir.
Kegunaannya melindungi kepala terhadap bahaya listrik,
mekanik, kimia, panas dll. Terbuat dari bahan polyethylene, plastik,
katun, aluminium dan bahan sintetis lainnya. Contohnya :
1.
Pelindung
wajah dan mata
Kegunaannya
melindungi mata dari loncatan bunga api, loncatan benda-benda kerja, percikan
bahan kimia dan sinar yang bersifat keras
2.
Topi
Pengaman (helmet), melindungi kepala dari kemungkinan benturan atau pukulan dan
kejatuhan benda.
3.
Pelindung
telinga
Memiliki
kegunaan melindungi pendengaran petugas dari suara keras yang melampaui batas
kekuatan pendengar dengan spesifikasi sesuai tempat kerja. Pelindung telinga
ini terbuat dari karet.
4.
Pelindung
Kaki
Kegunaannya
melindungi kaki terhadap bahaya listrik, mekanik, kimia, panas, dll. Dengan
spesifikasi daya sekat 1 – 6 kV, 6 – 20 kV dan terbuat dari bahan karet, kulit,
kanvas, dan bahan sintesis lainnya.
5.
Pelindung
Tangan
Kegunaannya
melindungi tangan terhadap bahaya listrik, mekanik, kimia,panas dll , dengan
spesifikasi daya sekat l.000 Volt, I-6 kV, 6 k V. Terbuat dari bahan katun,
nilon, kanvas, kufit, karet, lapisan asbes dan bahan sintetis lainnya dan
memiliki ukuran pendek dan panjang.
6.
Pakaian
Pelindung
Kegunaannya
melindungi badan terhadap bahaya listrik, mekanik, kimia,panas dll. Dengan
spesifikasi besar (LL), besar (L), sedang (M) dan kecil (S). terbuat dari bahan
katun, karet, neoprene, polveethane, campuran/lapisan sabes, timah hitam dan
bahan sintesis lainya.
d. Kerangka
Teori
e. Kerangka Konsep
f.
Hipotesis
Ada
hubungan kurangnya pengatahuan tentang alat pelindung diri pekerja tambang
dengan penyakit ISPA.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif atau
surve analitik dan penelitian yang dilakukan untuk mempelajari hubungan antar
kebiasaan dengan cara observasi atau pengumpulan data sekaligus pada saat untuk
mengetahui ada hubungan atau tidak padapekerja tambang dengan pengetahuan alat
pelindung diri di daerah sanga-sanga.
B.
Tempat
dan waktu
Tempat
penelitian dilakukan di daerah sanga-sanga pada bulan November sampai desember
2016.
C.
Populasi
dan teknik pengambilan sampel
Populasi dalah keseluruhan dari objek penelitian atau obyek yang akan diteliti (Notoatmodjo, 1993). Populasi dalam penelitian ini adalah pekerja tambang yang berusia 28 sampai 50 di daerah sanga-sanga sebanyak 30 orang. Sampel pada penelitian ini adalah pekerja tambang usia 28 sampai 46 di daerah sanga-sanga sebanyak 30 orang.
Populasi dalah keseluruhan dari objek penelitian atau obyek yang akan diteliti (Notoatmodjo, 1993). Populasi dalam penelitian ini adalah pekerja tambang yang berusia 28 sampai 50 di daerah sanga-sanga sebanyak 30 orang. Sampel pada penelitian ini adalah pekerja tambang usia 28 sampai 46 di daerah sanga-sanga sebanyak 30 orang.
D.
Teknik
dan alat pengumpulan data
Dalam penelitian ini, penelitian
menggunakan teknik pengumpulan data, sebagai berikut :
1. Teknik
pengolahan data primer, yaitu data yang diperoleh dengan melakukan penelitian
secara langsung ke lokasi penelitian sesuai dengan masalah yang di teliti.
Penelitian
data ini dilakukan dengan cara kuesioner. Kuesioner adalah suatu cara
pengumpulan data dengan cara memberikan daftar pertanyaan atau angket yang
telah disediakan kepada responden. Responden adalah tertutup dalam artian
mengharapkan pertanyaan singkat atau memilih pilihan jawaban yang tersedia.
2. Teknik
pengumpulan data sekunder, yaitu pengumpulan data dan informasi/peroleh melalui
catatan-catatan tertulis lainnya yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
E.
Pengolahan
dan analisis data
pengolahan
data merupakan proses yang sangat penting dalam penelitian, oleh karena itu
harus dilakukan baik dan benar. Menurut Hidayat(2007), kegiatan dalam proses
pengolahan data :
1.
Pengolahan
data
Pengolahan data terdiri dari beberapa tahap diantaranya
sebagai berikut :
a.
Memeriksa
data(editing)
Editing
adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau
dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah
data sudah terkumpul.
b.
Member
kode(coding)
Coding
merupakan kegiatan memberikan kode numrik(angka) terhadap data yang terdiri
atas beberapa kategori.
c. Menyusun
data(entri data)
Entri
data adalah kegiatan memasukan data yang telah dikumpulkan ke dalam master
kabel, kemudian membuat distribusi frekuensi sedeh=rhana.
d. Analisa(analiting)
Data
yang telah diku,pulkan pada saat penelitian kemudian dilakukan analisa secara
univariat dan bevariat.
2.
Melakukan
teknik analisis data
Setelah
dilakukan pengolahan data maka dilakukan analisis data. Analisa data dalam
penelitian ini menggunakan data kuantitatif. Data yang sudah terkumpul kemudian
dianalisis dengan analisis univariat dan analisis bevariat.
a.
Analisis
univariat
Analisis
univariat adalah analisis yang dilakukan terhadap setiap fariabel dari hasil
penelitian yang akan menghasilkan distribusi dan presentase dari setiap
variable (Notoatmodjo, 2002).
b.
Analisis
bivariat
Analisis
bivariat dilakukan terhadap dua variable yang diduga berhubungan atau
berkolerasi (Notoatmojdo, 2002). Analisis bivariat dilakukan untuk mengatahui
hubungan antara bebiasaan merokok pada anaka remaja.
